Cemburu? Ya Aku CEMBURU

Hari demi hari baru mulai kurasakan mewarnai hubungan ini. Hubungan kita yang merambat jam demi jam, hari demi hari, bahkan bulan demi bulan. Menjadikan sosok keindahan yang telah aku dan kamu nantikan. Sosok dewasa, sosok pengertian, dan sosok yang terbaik satu sama lain seperti yang telah kita usahakan. Namun. Aku merasakan bimbang. Lebih pantaskah aku menyebutnya usaha? Atau lebih pantas memaksa? Cuma hati kita masing-masinglah yang mengetahuinya. Tetapi, sepertinya mencintaimu bukanlah hal yang menjadi paksaan dalam hari-hariku. Menikmati mentari pagi yang menyeringai hingga berpindah posisi menjadi ufuk barat yang memancarkan kedamaian bagi penikmatnya.

Hingga pada suatu tanggal, kutemukan dirimu yang mulai janggal. Aneh, menyedihkan, mengecewakan, dan membuatku kembali meneteskan buliran air hangat dari mata. Kamu yang pernah menyebutku sebagai "WANITA"-mu seakan harus merasakan sakit ngilu itu. Lagiii..

Dulu, aku seakan tak pernah berharga dimata teman-temanmu. Aku hanyalah sebatas teman pula bagimu. Bahkan ketika semua mendengar bahwa aku adalah "WANITA"-mu , sahabatmu sendiri pun tak memberikan sinyal hijau kepada kita. Tak ada restu didalamnya. Untuk kita menjalin keindahan rasa yang bergejolak dengan hebatnya didalam dada. Dan anehnya, masa lalu kamulah yang mendapatkan posisi itu. Posisi dalam perestuan itu. Posisi dimana hal itu yang selalu kuimpikan. Menjadi sosok yang baik bagimu , bahkan bagi sahabatmu. Semua itu sulit, butuh pengorbanan dan perjuangan. Tapi? apa kamu pernah mengerti? Semua semangat yang kamu berikan. Semua cinta yang kamu curahkan. Itulah tujuanku. Bahagia denganmu. Hingga ujung waktu seakan berhenti. Berhenti tepat pada akhir yang manis.

Masalah demi masalah seakan selalu menerjang kokohnya tiang hubungan kita. Seakan ingin menggempurnya hingga hancur. Bahkan kita harus berpisah berkali-kali untuk itu. Untuk suatu keegoisan lebih tepatnya. Keegoisan yang tak terkendalikan. Mungkin karena jarak yang begitu tega memisahkan kita, memisahkan jalinan dua hati. Atau memang itu hanyalah keinginan raga ? untuk saling melepaskan? Kurasa bagiku tidak. Namun entah bagimu.

Masalah satu seakan selesai. Namun munculah lagi masalah baru. Kata orang-orang masalah itulah yang mendewasakan kita. Mendewasakan suatu hubungan. Tapi kurasa memang kita belum pantas mendapatkan masalah sebesar ini. Masalah dimana masa lalumu kembali mendapatkan persinggahan yang lebih tinggi daripada aku. Masalah dimana keirian ini semakin menapaki diri dengan begitu ganasnya. Aku takut. Aku takut jika pada suatu esok kemudian, pada suatu mentari pagi kemudian, atau bahkan pada ufuk barat kemudian, kau akan lebih memilih juga untuk bersamanya. Mimpi-mimpi yang pernah aku bangun bersamamu kurasakan mulai merapuh satu persatu. Walaupun selalu kuusahakan untuk membentuknya kembali. Tapi, ketakutanku tak pernah menjadi ketakutanmu.

Dan perlu kamu tahu, aku Cemburu ! ya aku sangat CEMBURU dengan masa lalumu...

0 Comment:

Post a Comment